Awalnya, Sekali terjatuh, aku bisa berpura-pura.
Lalu bagaimana aku bisa terus berpura-pura ketika kamu mulai membuatku jatuh hati setiap hari?
Bak seorang putri dalam cerita, bernyanyi lagu cinta dengan pipi merona, bergetar menerima sepucuk surat, hatinya mulai ber irama karena satu nama.
Ah, ini kah yang mereka katakan tentang mencintai?
Ya,sepertinya. aku mulai memahami 'aku' adalah sebuah perasaan yang tumbuh karena sempat kau tanamkan benih pribadimu yang berbeda, kasih sayang itu, logika itu, kejujuran itu, ketulusan itu, keyakinan itu dan kebahagiaan yang tanpa ku sadari selalu kau sampaikan dari bias mata mu.
Aku tak lagi sekedar "ingin" tapi merasa butuh, sangat butuh, menjadikan aku terlalu serakah, terlalu lancang terus ingin dekat, bukan hanya itu, bahkan ingin memiliki. Sungguh hina bukan?
Namun, ketika aku telah tersesat di matamu, Ketika semua lekuk tubuh mulai memujamu, perlahan-lahan tak lagi kutemukan 'aku' pada dirimu
Sedang, apalagi yang perlu ku sombongkan?
Seharusnya (masih) dirimu, tapi kamu sendiri yang membuatnya tak mungkin, kamu membiarkan aku berjalan tanpa peta,tak terarah, buta.
Walau, sampai kapanpun aku sama sekali tak ingin menyebutmu pelaku.
mungkin ini masa dimana disaat berlakunya ajaran, bahwa tak ada apapun yang bisa 'abadi' ;aku/kamu/ "kita" / cinta / kasih / sayang/ ketulusan/ perasaan, semua ada batasnya.
Enyah lah. Anggap saja kamu baru melewati satu episode semu dalam hidupmu. Lupakan, sama sekali tak berarti, apalagi tokoh 'aku'.
Apalah aku, yang sebenarnya sering kau sebut-sebut sebagai penggangu, yang selalu dekat dengan menyebalkan, pembohong bertopeng, ingusan.
Perlahan-lahan entah kapan aku juga akan mulai terbiasa (lagi) dengan bersandar pada kedua pundak ku sendiri, memaki diri sendiri, menyeka tiap butir di sudut mata, ataupun berkeluh kesah tentang bualan hari ini.
Percaya lah, aku hanya terjebak dalam cinta yang gagal.
Malam semakin larut
Pagi semakin dekat,
Tak ada yang bisa kembali, entah masa maupun asa itu.
jreng
BalasHapus